TEMPO.CO, Kediri - Dalam 20 hari
terakhir, jumlah penderita demam
berdarah dengue (DBD) di Kediri, Jawa Timur, sudah mencapai 31 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr Fauzan Adima, mengatakan, lonjakan
penderita DBD pada tahun ini sangat besar. Jumlah ini meningkat 15 kali lipat
dibanding bulan yang sama tahun lalu. "Pemerintah berusaha keras menekan
jumlah korban," katanya kepada Tempo,
Senin, 21 Januari 2013.
Data yang terekam di
Dinas Kesehatan menunjukkan jumlah penderita
DBD bulan Januari 2012 hanya dua orang. Sedangkan pada pertengahan bulan
ini saja sudah mencapai 31 orang. Ini berarti, setiap hari, nyamuk yang
menyerang pada pagi dan siang hari ini menjangkiti satu hingga dua orang setiap
hari.
Pemerintah Kota
Kediri berusaha menekan jatuhnya korban dengan mengupayakan pengasapan di 300
titik yang teridentifikasi. Hanya, upaya ini terkendala minimnya tenaga
penyemprot, bahan kimia, serta kendaraan fogging.
Prosedur permintaan fogging harus dilengkapi surat pengantar
dokter atau rumah sakit yang menyebutkan terdapat korban DBD positif di suatu
wilayah. Selanjutnya petugas akan memverifikasi lokasi sebelum melakukan fogging. Penyemprotan ini diutamakan di
tempat-tempat umum yang banyak dikunjungi orang. "Tidak bisa minta asal
semprot saja," kata Fauzan.
Selain penyemprotan,
Fauzan juga telah menyiapkan 12 karton Abate untuk dibagikan gratis. Namun obat
tabur itu tak bisa menjangkau 60 ribu rumah di Kota Kediri. Masyarakat diminta
memakai obat oles untuk mencegah gigitan nyamuk.
Adapun Wakil Wali
Kota Kediri Abdullah Abubakar melakukan fogging
di sejumlah titik, pagi tadi, Senin, 21 Januari 2013, menggunakan dana pribadi.
Dia melakukannya untuk membantu pemerintah memenuhi permintaan fogging yang mencapai 400 titik. "Tidak
bisa menunggu langkah pemerintah," katanya.
Namun upaya itu
justru menuai kritik dari Fauzan. Menurut dia, penyemprotan tidak bisa
dilakukan serampangan tanpa koordinasi dengan Dinas Kesehatan. Meski berstatus
wakil wali kota, setiap langkah terkait kesehatan masyarakat harus
sepengetahuan dinas. "Ini kan menyemprotkan bahan kimia, tak boleh
asal," katanya.


0 comments:
Post a Comment